Dialog Nasional Biofuel

Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Desain bekerjasama dengan Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi dan Industri Kimia, Kedeputian Teknologi Informasi Energi dan Material (TIEM), BPPT menyelenggarakan Dialog Nasional Biofuel yang bertemakan “Implementasi Biofuel sebagai Solusi Penyediaan Bahan Bakar di Indonesia”. Dialog Nasional ini diselenggarakan untuk mempertemukan para stakeholder yang berkepentingan dalam pengimplementasian biofuel yang mana per 1 September 2018 pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa pemantapan pengimplementasian BBN khususnya B20 dalam sektor non PSO.

Dialog Nasional ini diselenggarakan pada Selasa, 25 September 2018 bertempat di Ruang Komisi Utama Gedung BPPT, Thamrin dan mengundang narasumber diantaranya: Prof. Eniya L. Dewi (Deputi Ka. BPPT Bidang TIEM), Agus Saptono, S.E., MM (Ditjen EBTKE ESDM), Dr. Tatang Hermas Soerawidjaya (Ketua IKABI), Herutama Trikoranto, PhD. (SVP RTC Pertamina), Duta Pusvita, S.E (APROBI), Budhi Martono (HINABI). Acara dibawakan dan dimoderatori oleh Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc.dari Kementrian ESDM.

Kegiatan Dialog Nasional Biofuel berguna untuk mendiskusikan peluang, tantangan, strategi, teknologi, maupun kebijakan dalam pengimplementasiannya dalam berbagai sektor tekait, sehingga dapat dirumuskan hasil kristalisasi pemikiran teknologi biofuel yang bisa memberikan bahan masukan kepada pemerintah melalui suatu rekomendasi, agar pemerintah berkenan menerapkan kebijakan dan regulasi terkait optimalisasi peran teknologi dalam pembangunan sektor industry bahan bakar, guna mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

Dialog Nasional diawali paparan pertama oleh Deputi Kapala BPPT Bidang TIEM Prof. Eniya L. Dewi yang membawakan tema Peluang Biofuel untuk Substitusi Bahan Bakar di Berbagai Sektor Nasional. Paparan kedua dari Ditjen EBTKE ESDM Agus Saptono, S.E., MM yang bertema Kebijakan dalam Implementasi Biofuel. Paparan yang ketiga oleh ketua IKABI Dr. Tatang Hermas Soerawidjaya yang bertema Peran Strategis Bahan Bakar Nabati Biohidrokarbon Bagi Masa Depan NKRI. Paparan keempat oleh Duta Pusvita, S.E perwakila dai Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) dengan tema Kesiapan Industri dalam Suplai Biofuel. Paparan yang kelima dari Budi Martono perwakilan Perkumpulan Industri Alat Besar Indonesia (HINABI) dengan tema Kesiapan Industri Alat Besar dalam Implementasi Biofuel. Sedangkan paparan terakhir disampaikan oleh Herutama Trikoranto, PhD. Senior Vice Precident Research Technology Center Pertamina dengan tema Biofuel Business Development in Pertamina.

Hasil dari Dialog Nasional Biofuel ini dirumuskan beberapa rekomendasi jangka pendek dan panjang. Adapun rumusan jangka pendek diantaranya Implementasi B20 sejauh ini sudah berhasil meskipun ada beberapa kendala dalam handling selama transportasi dan storage, sehingga diperlukan adanya suatu standar transportasi dan storage system yang dapat menjamin kualitas dan kontinyuitas penyediaan dan penerapan B20. Untuk itu di dalam implementasi standar ini diperlukan adanya suatu pendampingan teknis dari lembaga atau institusi yang berkompeten dan mendapatkan penugasan dari pemerintah.

Sesuai dengan roadmap penerapan bahan bakar nabati di Indonesia maka Road test bahan bakar B30 sebaiknya segera dilakukan oleh seluruh stake holder (KESDM, BPPT, APROBI, PERTAMINA, GAIKINDO, HINABI) pada mesin kendaraan. Dan apabila hasilnya memenuhi persyaratan yang ditentukan maka sebaiknya segera diimplementasikan. Peningkatan konsumsi biodiesel nasional akan semakin menekan impor BBM sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan menghemat devisa. Seiring peningkatan kebutuhan biodiesel nasional maka perlu dipikirkan pasokan metanol yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan tersebut.

Selain itu aplikasi bahan bakar B50 dan PPO50 bisa mulai digunakan pada mesin diesel medium speed ke bawah (PLTD) dengan memperhatikan viskositas yang setara dengan HSD. Juga perlu disiapkan kajian pajak untuk bahan bakar fosil dan energi terbarukan khususnya pada biofuel dan BBM. Pajak tersebut akan digunakan sebagai cadangan ketika CPO naik jauh melebihi harga solar sehingga pajak ekspor yang selama digunakan tidak bisa menutup selisihnya.

Ke depan dalam jangka panjang perlu dilakukan kajian engine untuk penggunaan B0 sampai B100. Kemudian upaya untuk pengembangan produksi green fuel / green petrol (green diesel, green avtur, dan green gasoline) dari bahan baku sawit harus diakselerasi dengan memperhatikan skala ekonomis. (TEG)

*Materi Paparan dapat diunduh di laman media BTBRD